live chat qiu

Selasa, 09 Mei 2023

Tentang Formula One ( F1 ) by qiuslot88

Formula 1, disingkat F1 (atau nama lengkapnya FIA Formula One World Championship), adalah kategori tertinggi balap mobil satu tempat duduk yang diatur oleh Fédération Internationale de l'Automobile (FIA) dan tergabung dalam Formula 1. Grup.



Di Formula 1, kata formula mengacu pada aturan dan regulasi yang harus diikuti oleh semua kompetitor.

Formula 1 terdiri dari beberapa seri balap yang dikenal sebagai Grand Prix.

Balapan dijalankan di trek yang ditentukan atau di jalan tertutup.

Hasil setiap balapan dihitung menggunakan sistem poin untuk menentukan dua gelar Kejuaraan Dunia: satu untuk peserta dan satu untuk konstruktor.



Semua kompetisi harus memiliki Lisensi Super, lisensi kompetisi tertinggi yang dikeluarkan oleh FIA.

Balapan F1 harus diadakan di sirkuit berperingkat "1" (sebelumnya "A"), sirkuit tertinggi dalam sistem klasifikasi FIA.

Mobil Formula 1 adalah mobil balap tercepat di dunia berkat kecepatan menikung yang tinggi yang diciptakan oleh aerodinamika gaya tinggi.

Downforce sebagian besar berasal dari sayap depan dan belakang yang memiliki efek samping yaitu turbulensi di belakang mobil.

Turbulensi mengurangi traksi yang dihasilkan oleh mobil di belakang dan membuat menyalip menjadi lebih sulit.



Musim 2022 melihat perubahan besar pada regulasi mobil, menggunakan lebih banyak aerodinamika darat dan mengganti sayap mobil  untuk mengurangi turbulensi di belakang mobil. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pergantian pemain.

Sistem  traksi, transmisi otomatis, dan sistem bantuan kemudi elektronik lainnya pertama kali dilarang di Formula 1 pada tahun 1994.

Sistem ini diperkenalkan kembali pada tahun 2001 dan dilarang lagi pada tahun 2008.

Pada 23 Januari 2017, Liberty Media menyelesaikan pembelian Grup Formula 1 senilai $8 miliar dari CVC Capital Partners.

Formula 1 berakar pada mobil-mobil seri Grand Prix Eropa tahun 1920-an dan 1930-an.

Beberapa organisasi balap Grand Prix menetapkan aturan untuk Kejuaraan Dunia sebelum Perang Dunia II.

Karena penundaan yang disebabkan oleh perang, Kejuaraan Pembalap Dunia baru diresmikan pada tahun 1947 dan diadakan pertama kali pada tahun 1950.

Kemudian disusul dengan Kejuaraan Dunia Konstruktor pada tahun 1958.

Formula 1 berpacu tanpa gelar selama bertahun-tahun, namun ditingkatkan.

biaya kompetisi berakhir pada awal 1980-an.

Grand Prix Formula 1 akan berlangsung selama akhir pekan, dimulai dengan dua sesi latihan bebas pada hari Jumat (kecuali di Monaco, di mana latihan dipindahkan ke hari Kamis) dan satu sesi latihan bebas pada hari Sabtu.

Pengemudi ketiga diizinkan memasuki lapangan pada hari Jumat, tetapi tim hanya dapat menurunkan dua mobil, memaksa  satu pengemudi untuk pensiun.

Usai latihan, diadakan sesi kualifikasi, dimana tempat pembalap pada balapan hari Minggu ditentukan.

Untuk sebagian besar sejarah olahraga, sesi kualifikasi tidak jauh berbeda dengan latihan; Pembalap memiliki satu atau lebih sesi di mana mereka mengatur waktu putaran tercepat mereka, dan urutan awal balapan ditentukan oleh putaran terbaik masing-masing pembalap.

Pesaing tercepat mendapat posisi depan, disebut posisi pole.

Antara tahun 1996 dan 2002, dibentuk seri penalti satu jam, di mana pembalap memiliki waktu maksimal 12 lap untuk mencatat waktu tercepat.

Latihan ini berlanjut hingga akhir tahun 2002, ketika peraturan diubah lagi, karena tim tidak tersingkir di awal kualifikasi untuk memanfaatkan kondisi trek yang lebih baik nantinya.

Jaringan F1 saat ini dibatasi untuk 26 mobil – jika ada lebih banyak balapan dalam satu balapan, kualifikasi juga  menentukan pembalap mana yang dapat memulai balapan.

Sistem kualifikasi yang saat ini digunakan diperkenalkan dari musim 2006.

Kualifikasi "Knock-out", sistem ini dibagi menjadi tiga sesi: Q1, Q2 dan Q3. Dalam setiap latihan, pembalap memperkirakan waktu putaran dan mencoba maju ke latihan berikutnya, dengan pembalap yang terlambat didiskualifikasi di akhir setiap latihan.

Pesaing diperbolehkan berkeliling sirkuit sebanyak yang mereka inginkan dalam satu sesi.

Setelah setiap latihan, waktu putaran diatur ulang dan hanya waktu tercepat dari setiap peserta yang dihitung.

Jumlah pembalap yang tersingkir dari setiap sesi bergantung pada jumlah mobil yang masuk dalam kejuaraan.

Dengan 20 mobil sekarang, Q1 berlangsung 18 menit dan mengeliminasi 5 pembalap yang terlambat.

Dalam sesi Q1 ini, peserta yang putaran tercepatnya lebih lambat dari 107% waktu tercepat tidak akan diizinkan untuk berkompetisi tanpa izin dari Juri. Aturan tersebut hanya berlaku pada kuartal pertama.

Kemudian, pembalap memiliki waktu 15 menit di Q2 untuk menetapkan salah satu dari 10 waktu tercepat dan melanjutkan ke sesi berikutnya.

Q3 berlangsung selama 12 menit.

Pada awal musim 2016, sistem kualifikasi diperkenalkan di mana pembalap yang terlambat dijatuhkan setiap 1 menit 30 detik  di setiap sesi latihan setelah waktu yang ditentukan.

Sistem ini kemudian ditinggalkan karena hanya digunakan pada dua balapan pertama musim ini.

Jika terjadi  insiden yang mengancam keselamatan peserta atau juri, race director dapat memutuskan untuk menyediakan safety car.

Ini menunda balapan dan para pesaing harus mengikuti safety car. Pengemudi tidak boleh berpapasan satu sama lain.

Safety car mengerem mobil dan memberikan waktu kepada wasit untuk membereskan insiden tersebut.

Safety car akan berputar sampai masalah di lintasan teratasi; setelah itu, safety car kembali  ke pit dan didorong lagi dengan awalan "rolling start".

Pengemudi diperbolehkan menggali selama safety car. Sejak tahun 2000, pengemudi safety car adalah Bernd Mayländer, mantan pembalap dari Jerman.

Mercedes-Benz memasok model Formula 1 Mercedes-AMG  untuk digunakan sebagai safety car. Mulai musim 2021, Aston Martin akan memasok Aston Martin Vantage yang akan digunakan sebagai safety car, bergantian balapan tertentu dengan Mercedes.  Pada musim 2021, format balapan kualifikasi "sprint" akan diupayakan dalam tiga balapan.

Minggu, 07 Mei 2023

Tentang Museum Bank Indonesia by qiuslot88

Museum Bank Indonesia (BI) merupakan museum yang menyajikan berbagai informasi terkait dunia perbankan di Indonesia, baik sejak sebelum terbentuknya Bank Indonesia hingga periode setelahnya.

Lokasi Museum Bank Indonesia terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 3, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.



Museum BI pertama kali dibuka untuk umum pada 15 Desember 2006.

Hampir tiga tahun kemudian, tepatnya pada 19 Juli 2009 Museum BI akhirnya diresmikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI saat itu.

Berikut sejarah singkat Museum Bank Indonesia.

Jauh sebelum gedung Bank Indonesia Kota didirikan, di tempat tersebut berdiri gereja umat Protestan. Namun pada 1628, bangunan gereja dibongkar karena digunakan sebagai tempat meriam besar ketika pasukan Sultan Agung dari Mataram Islam untuk pertama kalinya menyerang Batavia (Jakarta). Pada 1828, Belanda membangun gedung De Javasche Bank di tempat tersebut.

Setelah Indonesia merdeka, terjadi proses nasionalisasi De Javasche Bank.

Seiring dengan langkah tersebut, mulai 1953 gedung De Javasche Bank menjadi gedung Bank Indonesia Kota.

Bangunan dua lantai yang saat ini dijadikan sebagai Museum Bank Indonesia adalah karya arsitek Ed. Cuypers.

Gedung Bank Indonesia Kota terdiri atas empat bangunan yang saling menyambung membentuk denah segi empat dengan halaman terbuka di bagian tengah.



Arsitekturnya bergaya Neo-klasik yang dipadu dengan pengaruh lokal.

Pengaruh lokal tampak pada ornamen-ornamen sulur seperti yang terpahat pada dinding candi di Indonesia.

Sebelum dimanfaatkan sebagai museum, gedung bersejarah ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sesuai SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 475 tahun 1993.

Sejalan dengan kebijakan Pemerintah DKI Jakarta untuk menjadikan daerah Kota Tua sebagai kawasan wisata bersejarah, pihak Bank Indonesia berkeinginan untuk menyajikan pengetahuan terkait perannya dalam perjalanan sejarah bangsa.

Dari situlah muncul gagasan untuk menjadikan bekas gedung Bank Indonesia Kota sebagai Museum Bank Indonesia.

Pada 15 Desember 2006, Museum Bank Indonesia dibuka untuk umum oleh Gubernur Bank Indonesia saat itu, Burhanuddin Abdullah.

Sementara peresmiannya dilakukan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Juli 2009.

Koleksi Museum Bank Indonesia Melansir situs resmi Bank Indonesia, Museum Bank Indonesia didirikan dengan tiga tujuan, yaitu: Sebagai sarana komunikasi kebijakan Bank Indonesia Tempat mengumpulkan, menyimpan, dan merawat benda numismatik ataupun dokumen bersejarah Bank Indonesia Sarana rekreasi literasi yang menghibur (edutainment) Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Museum Bank Indonesia menyajikan beragam koleksi. Museum BI memiliki koleksi numismatik (uang kuno) dari masa kerajaan Hindu-Buddha, kerajaan Islam, masa kolonial, serta koleksi uang Indonesia pada awal kemerdekaan hingga sekarang.

Di museum ini pengunjung juga dapat melihat metamorfosis logo Bank Indonesia dan emas moneter.

Selain itu, Museum Bank Indonesia menyajikan banyak informasi terkait dunia perbankan di Indonesia. Mulai dari peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa sejak sebelum kedatangan bangsa Barat hingga terbentuknya Bank Indonesia pada 1953, kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, dan aktivitas perbankan pada masa kolonial.

Tentang Museum Angkut By qiuslot88

Bagi masyarakat Jawa Timur, Malang adalah salah satu tujuan wisata yang menjadi favorit karena kondisi alamnya yang sejuk khas daerah pegunungan.



Jika pada zaman dulu Malang terkenal sebagai tempat wisata agro dan wisata alam, sekarang ini tempat wisata di Malang telah berkembang dan bertambah dengan banyak tujuan wisata modern.

Museum angkut adalah salah satu tempat wisata modern yang ada di Malang dengan luas sekira 3,8 hektar di lereng gunung Panderman.

Bertempat di jalan Terusan Sultan Agung Atas no.2, Desa Ngaglik, Kecamatan Batu, Malang.

Museum ini belum ada tandingannya karena memiliki beragam koleksi sarana transportasi yang lengkap dari seluruh dunia.



Sebagian koleksi di museum ini bahkan berupa mobil dan motor yang sangat langka.

Museum ini menjadi salah satu objek wisata pertama di Indonesia dan bahkan Asia yang mempunyai koleksi lebih dari 300 unit mobil antik, kuno dan modern, baik yang sudah dijalankan dengan mesin dan yang belum memiliki mesin.

Konon jutaan orang telah mengunjungi museum yang menjadi kebanggaan Indonesia di kancah internasional ini setiap musim liburan.

Museum angkut yang berdiri pada 9 Maret 2014 dibangun dan dikelola oleh Jawa Timur Park Grup yang sebelumnya telah membangun Batu Secret Zoo, Jatim Park I dan II, juga Batu Night Spectacular, Eco Green Park dan Museum Satwa.



Tujuan pembangunan museum ini adalah untuk menyediakan informasi mengenai sejarah kendaraan di dunia, agar dapat mengenali dan menghargai sejarah masa lalu serta memetik pelajaran darinya.

Pengunjung yang datang dapat berekreasi sekaligus mendapatkan pengetahuan mengenai berbagai jenis kendaraan angkutan yang ada di seluruh dunia.

Pembangunan Museum Angkut

Tidak hanya bisa melihat koleksi berbagai alat transportasi dari seluruh dunia, namun pengunjung juga dapat melihat berbagai replika bangunan landmark yang khas dari berbagai negara yang menjadi latar belakang dari display kendaraan yang diproduksi suatu negara tersebut.

Museum angkut terbagi menjadi beberapa zona, yaitu:

Zona Hall Utama – Ini adalah zona yang akan Anda temui ketika pertama kali masuk ke dalam ruangan Museum Angkut, berada tepat setelah melewati pintu masuk berupa aula utama yang berkesan mewah dan memuat berbagai koleksi kendaraan yang populer dari berbagai zaman di seluruh dunia. Apabila Anda tertarik kepada wisata sejarah, simak juga mengenai sejarah museum aceh, sejarah museum biologi, dan sejarah museum asia afrika di bandung.

Zona Edukasi – Area ini menitik beratkan kepada pameran alat – alat angkut yang memiliki nilai sejarah dari Indonesia dan luar negeri dan merupakan representasi visi dan misi Jatim Park Grup sebagai pengelolanya. Zona seluas 900 meter persegi ini akan menjadi area yang sangat menarik bagi para penggemar otomotif. Salah satu kendaraan favorit di lokasi ini adalah mobil Chrysler Windsor Deluxe yang pernah dipakai oleh Presiden Soekarno.

Zona Sunda – Zona ini bernuansa Batavia tempo dulu berupa pelabuhan terbesar di masa kolonial Belanda yang didominasi penampakan para penduduk Belanda. Landmark yang ada disini adalah replika Menara Syahbandar dan berbagai tipe angkutan yang ada pada zaman Belanda tersebut yang ada pada masa kolonial Eropa di Indonesia dan masa penjajahan Belanda di Indonesia.

Zona Gangster Town dan Broadway Street – Ini merupakan zona terfavorit yang settingnya mirip dalam film – film Amerika bertema gangster pada zaman Al Capone. Bagi para pecinta selfie, zona ini tentunya akan menjadi titik berfoto yang sangat disukai.

Zona Eropa – Nuansa malam adalah suasana dari zona ini yang dikombinasikan dengan berbagai koleksi angkutan terkenal dari Benua Eropa antara lain Perancis, Inggris, Italia dan Jerman. Ketahui juga berbagai sejarah museum lainnya di Indonesia seperti sejarah museum batik yogyakarta, dan sejarah museum benteng heritage.

Zona Istana Buckingham – Pengunjung akan merasa seperti berada di negara Inggris dengan latar istana Buckingham dan koleksi berbagai alat transportasi terkenal yang memiliki gaya khas Inggris seperti Mini Cooper, Raleigh, Filir, Rolls Royce, Land Rover, Royal Enfield, Austin, dan banyak lagi termasuk mobil yang pernah digunakan oleh Ratu Elizabeth II ketika berparade di Australia.

Zona Las Vegas – Bagi pengunjung yang penasaran dengan suasana Las Vegas bisa menemukan replikanya di area ini termasuk berbagai kendaraan yang ada di salah satu kota judi yang letaknya ada di Amerika Serikat ini.

Zona Hollywood – Hollywood terletak di Los Angeles Amerika Serikat dan merupakan pusat industri perfilman di Amerika, bahkan dunia. Pengunjung dapat merasakan sekilas suasana Hollywood di zona ini berisi berbagai alat angkut yang pernah digunakan dalam pembuatan film Hollywood yang berasal dari berbagai masa.

Zona Pasar Apung – Sejarah museum angkut lengkap juga tidak melupakan pusat penjualan suvenir dan oleh – oleh bagi para pengunjung, yang menyediakan berbagai merchandise khas dari Museum Angkut. Suasana pasar tempo dulu merupakan interior yang dipilih untuk ditampilkan di zona ini.

Zona D’Topeng Kingdom – Merupakan zona dalam sejarah museum angkut lengkap yang menampilkan warisan budaya berupa topeng – topeng yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang menyimpan keragaman budaya dan kebanggaan nasional.

Zona Flight Training – Pada zona ini pengunjung diharapkan untuk membayar agar dapat menikmati wahananya berupa ruangan yang didesain mirip dengan kokpit pesawat. Di Zona ini pengunjung dapat belajar untuk mengetahui bagaimana seorang pilot biasanya beraksi di dalam pesawat.

Adapun dalam sejarah museum angkut lengkap ini, koleksi yang ada didalamnya berupa sarana transportasi lokal yang asli dari Indonesia seperti becak, pedati, dokar, dan lainnya, juga sarana transportasi impor, original, replika atau modifikasi, mini, foto – foto, spare part kendaraan yang lama, dan lain sebagainya.

Bahkan ada helikopter yang pertama kali menjadi milik pemerintah Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soekarno yang diberikan oleh pemerintah Amerika Serikat.

Helikopter ini diberikan sebagai pengakuan rasa bersalah setelah mata – mata mereka tertangkap oleh Indonesia.

Semua koleksi dalam museum ini  terawat dengan baik dan bahkan ada yang masih bisa digunakan. Museum ini memiliki fasilitas yang lengkap untuk kenyamanan pengunjung antara lain restoran, toilet, tempat istirahat dan area untuk merokok, ruangan ibu dan anak, toilet untuk penyandang cacat, kursi roda, lahan parkir luas, gazebo, mobil pengantar gratis dan juga banyak penginapan yang ada diluar area museum dan masih termasuk kompleks wisata yang dikelola Jatim Park Grup.

Museum Angkut beroperasi dari mulai pukul 12.00 siang sampai dengan pukul 20.00 WIB, dengan harga tiket di hari biasa sebesar 60.000 rupiah dan akhir pekan atau hari besar dan musim liburan sebesar 80.000 rupiah.

Harga tiket sedemikian mungkin akan terlihat mahal, namun hal itu sejalan dengan biaya pemeliharaan aset – aset di museum yang lumayan tinggi.

Pengunjung juga harus membayar sebesar 30.000 rupiah tambahan jika membawa kamera.

Selain melihat berbagai koleksi alat transportasi dalam sejarah museum angkut lengkap, pengunjung juga dapat mengadakan berbagai acara baik untuk keperluan perusahaan atau organisasi. Selain acara gathering, ada juga pilihan untuk wisata edukasi sekolah, melakukan kegiatan sesi foto, video shooting, film, acara musik, pertunjukan mode, dan lain sebagainya melalui kerjasama dengan pihak pengelola museum.

Jumat, 05 Mei 2023

Tentang Museum Fatahillah by qiuslot88

Museum Fatahillah memiliki nama resmi Museum Sejarah Jakarta adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah Nomor 1, Jakarta Barat, dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.



Bangunan ini dahulu merupakan Balai Kota Batavia (bahasa Belanda: Stadhuis van Batavia) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Joan van Hoorn.

Bangunan ini menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.

Pada tanggal 30 Maret 1974, bangunan ini kemudian diresmikan oleh bapak Ali Sadikin sebagai Museum Sejarah Jakarta.

Pada tahun 1937, Yayasan Oud Batavia mengajukan rencana untuk mendirikan sebuah museum mengenai sejarah Batavia, yayasan tersebut kemudian membeli gudang perusahaan Geo Wehry & Co yang terletak di sebelah timur Kali Besar tepatnya di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 (kini Museum Wayang) dan membangunnya kembali sebagai Museum Oud Batavia. Museum Batavia Lama ini dibuka untuk umum pada tahun 1939.

Pada masa kemerdekaan museum ini berubah menjadi Museum Djakarta Lama di bawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan selanjutnya pada tahun 1968 ‘’Museum Djakarta Lama'’ diserahkan kepada PEMDA DKI Jakarta.



Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, Ali Sadikin, kemudian meresmikan gedung ini menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.

Untuk meningkatkan kinerja dan penampilannya, Museum Sejarah Jakarta sejak tahun 1999 bertekad menjadikan museum ini bukan sekadar tempat untuk merawat, memamerkan benda yang berasal dari periode Batavia, tetapi juga harus bisa menjadi tempat bagi semua orang baik bangsa Indonesia maupun asing, anak-anak, orang dewasa bahkan bagi penyandang cacat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman serta dapat dinikmati sebagai tempat rekreasi.

Untuk itu Museum Sejarah Jakarta berusaha menyediakan informasi mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak masa prasejarah hingga masa kini dalam bentuk yang lebih rekreatif.

Selain itu, melalui tata pamernya Museum Sejarah Jakarta berusaha menggambarkan “Jakarta Sebagai Pusat Pertemuan Budaya” dari berbagai kelompok suku baik dari dalam maupun dari luar Indonesia dan sejarah kota Jakarta seutuhnya.

Museum Sejarah Jakarta juga selalu berusaha menyelenggarakan kegiatan yang rekreatif sehingga dapat merangsang pengunjung untuk tertarik kepada Jakarta dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya warisan budaya.

Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Tiongkok, dan Indonesia.

Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti.

Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang Batavia.

Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis.

Selain itu, di Museum Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda.

Kamis, 04 Mei 2023

Tentang Museum Kereta Api Ambarawa by qiuslot88

Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sudah dialihfungsikan menjadi sebuah museum serta merupakan museum perkeretaapian pertama di Indonesia.



Museum ini memiliki koleksi kereta api yang pernah berjaya pada zamannya.

Museum ini secara administratif berada di Desa Panjang, Ambarawa, Semarang.

Museum yang terletak pada ketinggian +474,40 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi IV Semarang dan dikelola oleh KAI Wisata bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Nama Willem I yang disandang oleh stasiun ini berasal dari nama benteng yang letaknya tak jauh dari kompleks stasiun ini, yaitu Benteng Willem I yang dikenal juga sebagai "Benteng Pendhem". Dinamakan Willem I karena dibangun untuk menghargai jasa-jasa Raja Belanda yang bertakhta pada saat itu, yaitu Raja Willem I dari Belanda.

Agar mobilisasi tentara dan logistik KNIL lancar, maka Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) diberi tugas oleh Pemerintah Kolonial di bawah Gubernur Jenderal baron Sloet van de Beele untuk membangun jalur kereta api baru yang menghubungkan Semarang dengan benteng ini.

Ternyata, pembangunan jalur ini satu paket dengan jalur kereta api Samarang NIS–Gundih–Solo Balapan–Lempuyangan.



Maka setelah suksesnya NIS membangun jalur Samarang–Tangoeng yang selesai pada tanggal 10 Agustus 1867, maka pada awal tahun 1869, selain memperpanjang jalurnya menuju Gundih, NIS juga membangun jalur baru menuju Bringin dan selanjutnya diperpanjang menuju Ambarawa.

Pada tanggal 21 Mei 1873, jalur Samarang–Vorstenlanden dan Kedungjati–Ambarawa telah selesai dibangun.

Periode kedua adalah pembangunan jalur kereta api Secang - Ambarawa.

Karena jalur kereta apinya melalui pegunungan dengan kontur yang terjal dan topografi yang sukar untuk ditaklukkan, maka agar laju kereta api terkendali, dibuatlah sistem rel gigi.

Jalur ini menghubungkan kawasan strategis militer Hindia Belanda di Kota Magelang dengan Benteng Willem I di Ambarawa.

Hal ini bertujuan untuk mempermudah mobilitas tentara KNIL di kawasan tersebut. Pada tanggal 1 Februari 1905, jalur segmen ini telah selesai dibangun.

Stasiun ini menjadi pertemuan jalur NIS yang menggunakan lebar sepur 1.435mm (arah Kedungjati) dengan jalur dengan sepur 1.067mm (arah Secang).

Sejak Juni 1942, jalur kereta api Kedungjati–Willem I dan Semarang Tawang - Solo Balapan - Yogyakarta yang semula menggunakan sepur 1.435mm, akhirnya diubah menjadi 1.067mm.

Penutupan jalur kereta api Yogyakarta–Magelang–Secang pada tahun 1975 ternyata berdampak pada jalur ini. Bahkan kereta-kereta api tidak bisa bergerak ke arah Magelang karena terjadinya banjir lahar hasil erupsi Gunung Merapi 1972.

Praktis, PJKA menutup jalur kereta api ini.

Semenjak 1970-an, lokomotif-lokomotif uap mulai berguguran karena faktor usia.

Banyak yang dirucat, dipindahtangankan, atau bahkan dijadikan barang rongsokan.

Karena prihatin dengan hal tersebut, maka pada tanggal 8 April 1976, Gubernur Jawa Tengah, Soepardjo Rustam, beserta Kepala PJKA Eksploitasi Tengah, Soeharso, memutuskan untuk membuka sebuah museum kereta api yang nantinya akan mengoleksi barang-barang antik era lokomotif uap.

Pemilihan Stasiun Willem I sebagai lokasi museum akhirnya disepakati oleh Komisi D DPRD Jawa Tengah pada tanggal 6 Oktober 1976.

Pada tanggal 21 April 1978, museum ini mulai dibuka dan mulai menyelenggarakan angkutan kereta api wisata uap.

Rutenya adalah Ambarawa - Tuntang - Ambarawa dan Ambarawa - Bedono - Ambarawa.

Untuk menunjang operasi, Stasiun Tuntang, Jambu, dan Bedono tetap dipertahankan.

Untuk segmen Kedungjati–Tuntang saat ini telah menjalani proses reaktivasi, namun saat ini proyeknya tersendat lantaran masalah pembebasan lahan.

Dalam reaktivasi ini, direncanakan jumlah perlintasan sebidangnya akan dikurangi dan saat ini belum ada proses.

Untuk mendukung reaktivasi, bangunan Stasiun Bringin, Gogodalem, dan Tempuran harus dirombak.

Bangunan utama (stasiun) merupakan stasiun pulau. Mulanya, bangunan stasiun ini berupa bangunan berkanopi yang dibangun dari kayu jati.

Sejak tahun 1907, stasiun ini menggunakan arsitektur yang mirip dengan Stasiun Kedungjati dan Purwosari.

Ukuran bangunan stasiun ini lebih besar daripada Kedungjati maupun Purwosari karena bentang atapnya mencapai 21,75 meter sementara Kedungjati 14,65 meter dan Purwosari 13 meter.

Bangunan ini terdiri atas kanopi yang memayungi bangunan utama serta jalur yang mengapitnya.

Beberapa lokomotif uap adalah 2 unit kelas B25 (Esslingen 0-4-2RT) yaitu B2502 dan B2503 (2 dari 3 unit lokomotif yang tersisa; lokomotif ketiga, B2501 dimonumenkan di Monumen Palagan Ambarawa).

Dahulu, terdapat loko uap kelas E10 (Esslingen 0-10-0RT), bernomor E1060 yang semula dikirimkan ke Sumatra Barat pada tahun 1960 untuk menarik kereta api batu bara, tetapi kemudian dibawa ke Jawa, dan sebuah lokomotif konvensional 2-6-0T C1218 yang dihidupkan kembali pada tahun 2006 setelah lama disimpan di Cepu, kemudian direlokasi ke Ambarawa tahun 2002.

Namun, lokomotif E1060 dipulangkan kembali ke Sawahlunto sedangkan lokomotif C1218 dibawa ke Surakarta dijadikan kereta wisata Jaladara.

Baru-baru ini museum mendapat tambahan lokomotif diesel hidraulis D 300 23 yang berasal dari depo lokomotif Cepu yang dipindah ke depo lokomotif Ambarawa pada 6 Oktober 2010.

Lokomotif uap B 5112 yang buatan pabrik Hanomag, telah berhasil dihidupkan kembali sejak Januari 2014.

Museum Ambarawa juga mempunyai beberapa koleksi baru seperti kereta inspeksi Sultan Madura, kereta kayu dari Kebonpolo, Magelang, NR kayu dari Balai Yasa Yogyakarta, gerbong GR dari Balai Yasa Manggarai, serta lokomotif diesel CC 200 15 dan lokomotif DD5512, yang dahulu berbasis di Stasiun Cirebon dan Stasiun Jatibarang.

Ada pula satu unit lokomotif BB200.

Lokomotif-lokomotif diesel tersebut sebagian telah dipindah ke Stasiun Tuntang.

Koleksi lainnya adalah halte (Cicayur dan Cikoya serta beberapa halte kayu di jalur kereta api Purwosari–Wonogiri), persinyalan, pencetakan tiket, peralatan administrasi, serta atribut perusahaan dari era SS dan NIS hingga PJKA.

Untuk menunjang kepariwisataan, PT KAI menyelenggarakan suatu angkutan kereta api wisata. Di museum ini terdapat dua layanan kereta api, yaitu kereta wisata Ambarawa - Bedono pp dan Ambarawa - Tuntang pp.

Perjalanannya hanya dilakukan secara reguler pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional; untuk hari lain hanya bisa dilakukan dengan sistem sewa.

Kereta wisata Ambarawa - Bedono merupakan kereta api yang menggunakan rel gigi.

Pihak museum sendiri kemudian mem-branding layanan ini dengan nama Ambarawa Mountain Railway Tour.

Rutenya dari Ambarawa - Jambu - Bedono dan kembali ke Ambarawa.

Perjalanan ke Bedono hanya bisa dilakukan oleh lokomotif uap bergigi karena tidak ada satu pun lokomotif diesel yang dipasangi roda gigi.

Selain itu, reservasi tiket kereta api uap hanya bisa dipesan melalui sistem sewa.

Akibatnya, Stasiun Bedono dan Jambu hanya dibuka pada saat ada perjalanan kereta api tersebut.

Kereta wisata Ambarawa–Tuntang dijalankan secara reguler menggunakan lokomotif diesel, tetapi dapat disewakan baik dengan lokomotif uap maupun lokomotif diesel.

Untuk perjalanan reguler terdapat jadwal kereta api yang berangkat pada pukul 10.00, 12.00, dan 14.00.

Rabu, 03 Mei 2023

Tentang Museum Ronggowarsito by qiuslot88

Luas Museum Ranggawarsito mencapai 8.438 meter persegi, terdiri dari pendapa, gedung pertemuan, gedung pameran tetap, perpustakaan, laboratorium, perkantoran, gedung deposit koleksi, dan berdiri di atas lahan seluas dua hektar lebih.



Sebagai museum provinsi terbesar dengan didukung kekayaan lebih dari 50.000 koleksi, Museum Jawa Tengah Ronggowarsito dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana penunjang sehingga dapat dinikmati oleh pengunjung.

Fasilitas tersebut antara lain 4 gedung pameran tetap, masing-masing terdiri dari 2 lantai; dan satu ruang koleksi emas.

Sembilan ruang pameran/galeri Museum Jawa Tengah Ronggowarsito sebagai berikut:

1. Gedung A: Galeri Geologi (Lantai I).



Gunungan Blumbangan: tradisi Gunung Blumbangan dirancang oleh Raden Patah pada abad ke-15. Gunungan menggambarkan alam semesta, manusia, dan lingkungannya.

Lukisan Alam Semesta

Koleksi Kosmologika: berupa lukisan-lukisan galaksi, proses terbentuknya planet, atmosfer Bumi; serta koleksi benda angkasa luar berupa meteorit.

Koleksi Geologika dan Geografika: mencakup ilustrasi skala waktu geologi, diorama stalaktit-stalagmit, formasi batuan Karangsambung-Kebumen yang merupakan daerah penelitian batuan terbesar di Asia Tenggara.

Koleksi Ekologika: menyajikan diorama ekosistem, koleksi awetan binatang, dan foto-foto lingkungan alam yang terkenal di Jawa Tengah.

2. Gedung A: Galeri Paleontologi (Lantai II)

Kelompok Paleobotani: koleksi fosil-fosil kayu dari Sangiran yang terbentuk karena proses mineralisasi yaitu meresapnya mineral (silikat) kedalam struktur/pori-pori kayu, dan ilustrasi bentuk tumbuhan zaman purba.

Kelompok Paleozoologi: fosil (kerang, gajah purba, kerbau purba, dll) dan ilustrasi kehidupan binatang purba.

Kelompok Paleontologi: koleksi fosil-fosil fragmen tulang manusia purba jenis Pithecanthropus erectus, manusia-kera yang berjalan tegak.

3. Gedung B: Peninggalan dari peradaban Hindu-Buddha (Lantai I dan II)

Budaya yang berasal dari pengaruh Hindu-Buddha dari India sering juga disebut peradaban klasik. Peradaban tersebut datang secara bergelombang, bermula dari awal tarikh Masehi, dan membawa tiga perubahan besar bagi masyarakat lokal yaitu: mengenal ajaran Hindu-Buddha, mengenal sistem pemerintahan kerajaan, dan mengenal bentuk tulisan. Koleksi yang dipamerkan berupa:

Miniatur Candi Borobudur, Prambanan, Kalasan.

Replika Prasasti Tukmas dan Cangal.

Arca-arca dan replika, lingga-yoni, kala-makara. Arca Ganesha dari Sawit, Boyolali, sangat sempurna dilihat dari sisi artistik.

Koleksi yang berhubungan dengan kehidupan religi seperti kentongan, kendi, genta, cermin yang dibuat dari perunggu.

Peralatan sehari-hari berupa lampu gantung, bokor, bejana, talam, cetakan mata uang.

4. Gedung B: Peninggalan dari berbagai zaman peradaban (Lantai II)

Zaman batu: peradaban batu berupa serpih, kapal genggam, kapak besar (beliung), punden berundak, menhir, arca-arca di Jawa Tengah tersebar di berbagai wilayah.

Zaman perunggu: berupa benda-benda peralatan (kapak corong) dan benda-benda untuk kepentingan upacara keagamaan seperti nekara, digunakan dalam upacara memanggil hujan.

Zaman besi: tidak tersedia

Peradaban Polinesia: disebut peradaban Polinesia karena berbagai langgam budaya yang ditinggalkan khas budaya Polinesia, berupa arca mirip Ganesha temuan dari Desa Jalatiga, Kecamatan Doro, Pekalongan.

Peradaban Hindu-Buddha

Zaman pengaruh Islam: pesisir utara Jawa Tengah (Tegal, Pekalongan, Semarang, Demak, Kudus, Jepara, Rembang, Lasem) termasuk daerah awal persebaran pengaruh Islam di Indonesia. Koleksi berupa fragmen seni hias, replika kaligrafi karya RM Sosrokartono, serta miniatur Masjid Agung Demak dan Masjid Sunan Kudus.

Peninggalan zaman kolonial: berupa meriam pertahanan temuan dari Tegal dan Brebes, pedang militer, lonceng dan jangkar kapal, dll.

5. Gedung C: Galeri bersejarah perjuangan bersenjata (Lantai I)

Koleksi dibagi dua bagian: koleksi semasa perjuangan fisik dan diplomasi, serta diorama antara lain: Diorama pertempuran lima hari Semarang, diorama peristiwa Palagan Ambarawa, Diorama gerilya dan kembali ke Yogyakarta.

6. Gedung C: Galeri koleksi teknologi dan kerajinan tradisional (Lantai II)

Ruangan ini dibagi menjadi beberapa bagian, mencakup ruang teknologi mata pencaharian, ruang teknologi industri dan transportasi, ruang teknologi kerajinan, dan rumah tinggal.

7. Gedung D: Galeri Pembangunan (Lantai I)

Galeri in dikelompokkan kedalam Ruang Pembangunan, Ruang Numismatika dan Heraldik, Ruang Tradisi Nusantara, Ruang Intisari dan Hibah.

8. Ruang D: Galeri Kesenian (Lantai II)

Galeri kesenian menampilkan koleksi benda dan peralatan kesenian yang dipisahkan menjadi (1) Seni Pergelaran, dan (2) Seni Pertunjukan dan Seni Musik.

Ruang Seni Pergelaran ditampilkan kesenian wayang. Wayang merupakan kesenian asli Indonesia yang dalam perkembangannya telah mengalami perubahan baik dalam bentuk jenis maupun fungsinya. Belasan jenis wayang yang ditampilkan adalah:

Wayang Beber: teknik pergelaran dengan cara membentangkan (mbeber) adegan yang dilukis pada kain. Mengangkat kisah Panji.

Wayang Kidang Kencana: ciri fisik tokoh-tokohnya dicat kuning keemasan. Mengangkat kisah Panji.

Wayang Kaper: dibuat dalam ukuran kecil untuk latihan memainkan wayang bagi anak-anak di lingkungan keraton.

Wayang Kandha/Ramayana: mengangkat epik Ramayana.

Wayang Purwa: disebut juga wayang Mahabarata karena mengangkat kisah Mahabarata.

Wayang Madya: mengangkat kisah sambungan Parwa ke kisah Panji. Diciptakan pada zaman Mangkunegaran IV oleh Raden Ngabehi Tandakusuma.

Wayang Gedhog: mengangkat kisah Panji, dikenal pada zaman Raja Jayabaya, Kadiri. Tokoh-tokoh menggunakan nama-nama binatang (Kuda Laweyan, Kebo Anabrang, Lembu Amiluhur)

Wayang Potehi: mengangkat kisah roman dari Negeri Cina seperti Sampek Engtay.

Wayang Suluh: diciptakan pada zaman revolusi oleh Raden Mas Said, mengangkat kisah-kisah perjuangan revolusi.

Wayang Pesisiran: disebut juga wayang Semarangan.

9. Ruang E: Galeri Koleksi Emas

Merupakan ruang susulan untuk menampilkan koleksi emas. Diresmikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Edy Setyawati, pada tanggal 14 Oktober 1996. Koleksi dibagi menjadi empat kategori:

Perhiasan badan: anting-anting, gelang, binggel, hiasan dada, kelat leher, ikat pinggang

Perhiasa kepala: mahkota dan grado

Berbagai bentuk cincin

Benda-benda untuk sarana upacara keagamaan, mata uang, lempengan prasasti, arca, keris, dan mangkuk

Selasa, 02 Mei 2023

Tentang Museum Sangiran by qiuslot88

Museum Sangiran merupakan museum yang menampilkan benda-benda purbakala dari situs penggalian arkeologis di Jawa Tengah. Lebih tepatnya di Surakarta.

Situs penggalian ini mendapatkan fosil-fosil manusia purba seperti Pithecanthropus erectus, Meganthropus dan beberapa fosil lain.



Pada tahun 1977, pemerintah Indonesia menetapkan area ini sebagai cagar budaya.

Hinggar akhirnya situs Sangiran mendapat perhatian dari UNESCO dan ditetapkan sebagai situs warisan dunia pada tahun 1996.

Kini situs purbakala Sangiran menjadi salah satu situs yang sangat penting untuk mempelajari fosil manusia.

Setara dengan Situs Zhoukoudian di China, Situs Danau Willandra di Australia, Situs Olduvai Gorge di Tanzania dan Situs Sterkfontein di Afrika Selatan.



Cukup banyak fosil dan benda purbakala yang ditemukan di Sangiran.

Sejarah Museum Sangiran tak lepas dari sejarah bagaimana area Sangiran ini menjadi situs penggalian purbakala.

Karena itulah kita harus mengetahui sejarah Sangiran terlebih dahulu.

Sejarah Sangiran sudah dimulai sejak lama.

Bahkan ketika Indonesia masih dijajah oleh Belanda.

Pada tahun 1883, pemerintah kolonial Belanda mengirim seorang ahli paleoanthropologis (merupakan cabang ilmu arkeologi yang fokus untuk mempelajari manusia) untuk melakukan persiapan penggalian di Sangiran.

Rencana penggalian ini dipimpin oleh Eugene Dubois.

Sayangnya, Dubois tidak menemukan fosil-fosil yang menarik.

Kemudian Dubois mengalihkan penggaliannya ke Trinil di Jawa Timur.

Di Trinil, Dubois berhasil menemukan fosil-fosil secara signifikan.

Pulau Jawa memang dikenal sebagai tempat ditemukannya banyak fosil kehidupan purbakala.

Para ilmuwan yang memahami langkah-langkah penelitian ilmu sejarah segera datang ke sini.

Pada tahun 1934, seorang antropologis bernama Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald mulai memeriksa area Saingiran.

Tahun-tahun berikutnya, von Koenigswald menemukan nenek moyang manusia yang bernama Pithecanthropus erectus.

Biasa disebut dengan Java Man atau Manusia Jawa.

Kemudian Pithecanthropus erectus diklasifikasikan dan ternyata termasuk kelompok Homo erectus. Enam puluh fosil manusia ditemukan lagi dan diantara penemuan itu terdapat Meganthropus.

Von Koenigswald lalu menemukan sebuah fosil berupa kranium bagian atas dari spesies Homo erectus pada tahun 1937 yang berumur kira-kira 0,7 hingga 1,6 juta tahun yang lalu.

Kranium atas ini lalu diberi nama Sangiran 2. Selain itu, fosil beberapa hewan buruan manusia purba juga ditemukan

Lama-lama situs purbakala Sangiran ini mulai mendapat perhatian dari pemerintah.

Pada tahun 1977, pemerintah Indonesia menetapkan area seluas 56 km2 di sekeliling Sangiran sebagai Daerah Cagar Budaya.

Kemudian pemerintah lalu mendirikan museum dan laboraturium sederhana di Sangira.

Lalu UNESCO menetapkan Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia pada tahun 1996.

Pada tanggal 15 Desember 2011, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meresmikan museum untuk umum.

Pada bulan February 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi museum dan ditemani oleh sebelas menteri kabinet.

Seiring berjalannya waktu, para akademisi dan arkeologis dari Indonesia mempelajari dan meneliti situs ini. Pelajari juga mengenai Sejarah Museum Ambarawa.

Sebenarnya museum dan laboraturium sederhana sudah ada di Sangiran beberapa dekade sebelum museum yang sekarang dibuka untuk umum mulai Desember 2011.

Koleksi fosilnya mencapai 13809 tapi hanya 2934 yang ditampilkan.

Sebagin besar masih disimpan untuk diteliti.

Museum yang sekarang lebih modern, memiliki tiga aula utama, pameran yang ekstensif dan diorama yang menarik.

Diorama ini menggambarkan area Sangiran kira-kira satu juta tahun yang lalu.

Museum utama ini disebut Krikilan.

Museum yang memiliki moto The Homeland of Java Man ini memiliki tiga aula utama.

Aula pertama memuat beberapa diorama yang menyediakan informasi tentang manusia dan hewan yang hidup di situs Sangiran kira-kira satu juta tahun yang lalu.

Seperti pola  kehidupan, tempat tinggal, masa meramu dan meramu.

Alat-alat yang digunakan manusia purba juga ada seperti bilah, serpih, gurdi, serut, kapak perimbas, kapak persegi dan bola batu.

Aula kedua, yang lebih luas dari aula pertama, menjelaskan material dari banyak fosil yang ditemukan di Sangiran dan variasinya.

Serta menjelaskan sejarah eksplorasi di Sangiran. Pelajari juga mengenai Sejarah Museum Adityawarman.

Aula ketiga menjelaskan diorama besar yang mempertunjukkan area Sangiran kira-kira satu juta tahun yang lalu.

Lebih tepatnya tiga juta tahun yang lalu (masa akhir pliosen) hingga puluhan ribu tahun yang lalu (masa akhir pleistosen).

Dengan gunung berapi seperti Gunung Lawu sebagai latar balakang dan kehidupan di Sangiran sebagai latar depan.

Beberapa karya di aula ketia ini merupakan karya dari Elisabeth Daynes.

Seorang pemahat paleontologis yang terkenal di dunia internasional.

Pihak museum juga sudah membangun tiga tempat tambahan.

Empat tempat tambahan ini tersebar di situs Sangiran.

Tiga tempat tambahan itu adalah Ngebung, Dayu dan Bukuran.

Ngebung dibangun untuk memuat sejarah penemuan situs Sangiran, Dayu dibuat untuk menyediakan informasi terkait penelitian terbaru dan Bukuran dibangun untuk menyediakan informasi terkait penemuan fosil manusia di Sangiran.

Ditambah dengan Krikilan, kini sudah ada empat lokasi.

Sejarah Museum Sangiran: Kehidupan di Era Pliosen hingga Era Pleistosen

Museum Sangiran mengkoleksi banyak penemuan di situs Sangiran yang sebagian besar berasal dari era akhir pliosen hingga akhir era pleistosen.

Pliosen adalah era yang berlangsung mulai 5,3 hingga 1,8 juta tahun yang lalu. Era pliosen dibagi jadi dua yaitu Zanclean (3,6 juta hingga 5,3 juta tahun yang lalu) dan Piacenzian (2,58 juta hingga 3,6 juta tahun yang lalu).

Kehidupan purbakala di Sangiran dimulai ketika era Piacenzian dimana suhunya lebih hangat dari era Zanclean. Pelajari juga mengenai Sejarah Museum Angkut.

Di masa ini genus Homo mulai berkembang dari nenek moyangnya dari genus Australopithecus.

Era Pleistosen atau biasa disebut dengan Zaman Es adalah era yang dimulai dari 2,58 juta hingga 11,7 ribu tahun yang lalu.

Disebut era pleistosen karena suhunya sangat dingin dan banyaknya aktivitas gletser.

Era Pleistosen dibagi menjadi empat yaitu Gelasian, Calabrian, Chibanian dan Tarantian.

Tentang Mclaren Racing Limited by qiuslot88

McLaren Racing Limited merupakan sebuah tim balap mobil yang berkantor pusat di McLaren Technology Centre di Woking, Surrey, Inggris . McLa...